Sebenarnya perjalanan kali ini adalah perjalanan yang super ad hoc alias mendadak, tanpa rencana dan mengalir begitu saja. Diawali dari acara makan siang saya dengan Rama, ada keinginan darinya untuk trekking ke Gunung Salak. Kangen sama Kawah Ratu dan curug-curug katanya.. Wacana ini saya lempar ke teman-teman di milis Nature Trekker Indonesia dan ternyata gayung bersambut.
Hari Sabtu 23 April 2005 di pagi buta seorang Fey sudah membangunkan tidur nyenyak saya. Saya jemput dia dan kami langsung ke stasiun kereta Pasar Minggu untuk selanjutnya menuju stasiun Bogor sebagai tempat bertemu dengan teman-teman yang lain. Skejul yang telah ditentukan yaitu pukul 7 pagi berkumpul di stasiun Bogor terpaksa mundur karena keterlambatan beberapa ‘oknum’ :p Kira-kira pukul 08.15 setelah semuanya berkumpul, kami langsung bertolah menuju Desa Pasir Reungit melewati daerah Cibatok, dengan menggunakan kendaraan angkot yang kami carter.
Di titik terakhir itu kita ngaso sebentar untuk meluruskan kaki. Tepat pukul 10.45 kami semua siap ‘nanjak’ ke Gunung Salak. Ada beberapa hutan tropis di Jawa Barat yang sudah saya ‘santroni’, tetapi aura dari hutan ini sungguh berbeda. Sepanjang perjalanan trekking masuk hutan di gunung tersebut ternyata banyak sekali sungai-sungai kecil berbatu yang bagus dan indah, yang tentunya sayang kalau tidak dinikmati… Mungkin kalo dihitung-hitung saya melewati lebih dari 10 sungai. Tapakan trekking di hutan ini berbatu, jadi kami harus konsentrasi dan hati-hati.
Sungai terakhir yang kami lewati adalah sungai Cigamea. Di sana rombongan berkumpul dan beristirahat. Banyak di antara kami yang sudah mulai kelelahan. Yah bayangin aja dari 8 perempuan yang ikut, yang master cuma 1 (bac : Fey, yang mendapat titah menjadi sweaper), dan yang lain adalah para cemen-cemen durjana, hehee.. Palage tuk saya, Linda, Dewi, dan Astrid yang seumur-umur enggak pernah naik gunung. Sisa 3 perempuan lain sudah pernah naik gunung, tapi masih tahap coba-coba (baca : Erni dan Setyo yang baru sekali ke Gunung Gede). Hmm, sudah 3 jam trekking nih kataku.
Akhirnya dengan tetap semangat tinggi, kami melanjutkan perjalan kami ke titik akhir kami : Kawah Ratu. Sebelum menginjakkan kaki di Kawah Ratu, kami harus melewati Kawah Mati 1 dan Kawah Mati 2. Kawah-kawah yang merupakan kawahnya gunung Salak ini adalah kawah yang sudah tidak aktif lagi. Pemandangan di tempat ini sungguh unik karena bertebaran batang-batang pohon tumbang yang sudah mati, berwarna coklat kemerahan dan dibiarkan begitu saja (petugas Perhutani sudah mengingatkan kami untuk tidak membawa batang-batang tersebut, karena banyak pengunjung yang suka iseng mengambil sekedar untuk ‘souvenir’). Bukit-bukit di sekelilingnya berwarna putih keunguan, dan mengalir air sungai berwana kuning keemasan (belerang), yang sungguh indah. Karena kawah ini sudah mati, maka tidak ada lagi asap mengebul. Dari Kawah Mati 2 kami sempat melihat dari kejauhan Danau Sanghyang yang sungguh hijau, tenang dan cantik.
Berbeda ketika kami trekking lebih jauh menuju Kawah Ratu di mana kawah ini masih sangat aktif, asap mengepul di mana-mana. Pemandangan sangat indah. Belum pernah saya melihat pemandangan unik seperti ini. Kawah ini dikelilingi bukit-bukit kapur, berwarna putih keunguan. Tampak kawah-kawah kecil seluas 1 meter persegi yang masih mendidih yang tersebar di mana-mana. Kami mengitari kawah-kawah kecil itu dan di balik bukit kecil terlihat pemandangan yang indah bangat. Di bawah kami mengalir sungai kecil yang cantik sekali, sungai tersebut tidak berwarna biru jernih dikelilingi hijaunya daun, tetapi air berwarna kuning keemasan dikelilingi batu-batu putih krem keunguan. Sungguh pemandangan di kawasan ini amat sangat berbeda dari apa yang kami lihat sewaktu masih trekking di hutan Gunung Salak. Di tempat ini kami mengeluarkan sangu kami, makan siang dan istirahat.
Kami tidak berlama-lama di tempat ini karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kalau waktu pergi waktu yang dibutuhkan adalah 4 jam trekking, kami perkirakan untuk perjalanan kembali ke bawah akan lebih lama karena hari sudah mulai gelap, jalanan menurun dan kami harus lebih extra hati-hati karena perjalanan trekking pulang ini ditemani oleh guyuran hujan yang sangat lebat.
Kami berada di tengah hutan belantara, diguyur hujan deras, melewati sungai-sungai kecil yang sudah meninggi, pandangan gelap dan harus meraba-raba tapakan kaki kami. Beberapa kali saya terjatuh terpeleset. Hmm, enakan nanjak gumamku.. Jalan menurun begini ternyata beban jauh lebih besar..
Akhirnya jarak 4 kilometer tersebut tuntas setelah hampir 5 jam perjalanan trekking turun. Sungguh berat bagi saya yang dibilang ‘pemula’ saja belum.. Tetapi terus terang perjalanan ini saya bawa fun saja, enjoy.. :o) Nikmat juga… Yang penting bagi saya, boleh capek asal jangan ngerepotin orang lain dan jangan ngedumel. Kita harus mandiri dan tepo seliro dengan teman.
Begitu sampai di pos, langsung saya rebahkan kaki dan memejamkan mata.. Sruputan teh manis hangat dan mie rebus sungguh nikmaattt…tttt…
Istirahat tersebut saya manfaatkan karena kami harus kembali trekking kembali ke bawah (ke jalan aspal – Pasir Reungit).
Rencana tinggal rencana.. Yang tadinya kami akan kembali ke Jakarta malam itu kami pending karena sudah malam sekali, ditambah kondisi badan kami yang sudah tidak memungkinkan untuk dibawa bercapek-capek lagi. Akhirnya malam itu juga, kira-kira pukul 11 malam kami bertolak menuju Cibatok.. Di sana kami disambut oleh keluarganya Eva. Karena sudah sangat kelelahan, akhirnya saya langsung tidurrr…rrrrrr…..
Pagi hari di Minggu yang cerah kami tidak langsung bersiap-siap menuju Jakarta. Tetapi moment ini kami pakai untuk leyeh-leyeh. Kami nikmati sarapan pagi kami di teras belakang rumah Eva sambil ketawa ketiwi..
Akhirnya rencana juga tinggal rencana, karena rencana begitu sudah sampai di Bogor yang tadinya langsung menuju stasiun Bogor untuk pulang ke Jakarta akhirnya kami belokkan menuju Pangrango Plaza dan beberapa factory outlet di Jl.Pajajaran Bogor :o)
Sungguh berkesan perjalanan dadakan ini.. Sungguh indah apa yang kami lihat.. Sungguh nikmat apa yang kami rasakan..
Special thanks to :
/R/A/M/A/ Si pencetus gagasan ad hoc trip ini.. Well bro, thanx for guiding us !!
/K/I/K/I/ Pejantan tangguh yang penuh perhatian, baik hati dan tidak sombong..
/C/H/A/R/L/I/E/ Ceria dan candamu meramaikan trip ini..
/F/E/Y/ Tobat dah gue nyela2 elu.. Panggilan cun, cuplis, nyet, dan panggilan-panggilan sayang lainnya akan gue gantikan dengan panggilan : ibu periku yang baik hati.. Hmm, di setengah perjalanan pulang di tengah hutan belantara itu, di kegelapan malam, di derasnya hujan Gunung Salak, ibu peri manis ini bagaikan malaikat bagi kami.. Penuntun semangat kami yang mulai drop, menawarkan sendalnya kepadaku sehingga dia harus nyeker menapak tanah, batu dan batang-batang pohon, memberikan keceriaan bahwa pos sudah dekat (padahal masih berjam-jam lagi sampai), memberikan tuntunan tangan mungilnya menggandeng kami yang kelelahan, menjadi ibu suster bagi kami di kala kaki kami keram (ya Setyo?)
/L/I/N/D/A/ Si kawan baru yang ternyata sama ceriwisnya dengan gue.. Penyemangat lahir batin..
/S/E/T/Y/O/ Si lucu dan kompor tuk berbagi..
/E/V/A/ Terima kasih udah ngasih kamarnya buat kami-kami.. Rumahmu mewah banget tuk kita-kita yang udah kecape’an.. :o)
/E/N/O/Y/ Gak salah loe ikut dalam trip ini sis.. Penyemangat dengan celotehan-celotehan lucumu..
/D/E/W/I/ Si kalem yang ternyata hebring euy..
/A/S/T/R/I/D/ Welkam to our next trip !
See you.. I’m missing you all already…
.y.e.y.e.n.
Wana Wisata Kawah Ratu Terletak pada ketinggian 1.338 m Dpl, dengan suhu berkisar antara 10º - 20º C. Lokasi wisata ini sangat cocok untuk wisata petualangan alam terbuka.
Wana Wisata Kawah Ratu memiliki luas ±30 Ha dimana terdapat kawah mati I yang berjarak sekitar 1.330 meter dan Kawah mati II yang berjarak 1.335 meter dari lokasi Kawah Ratu
Kawah Ratu memiliki daya tarik yang unik bagi setiap pengunjungnya antara lain adalah aktivitas geologinya , sepanjang hari kepundan selalu mendidih dan mengeluarkan gas asam Sulfat (H2S) dengan baunya yang khas, dan kadang mengeluarkan suara gemuruh, sebagai akibat semburan uap air panas yang membentuk kabut, layaknya Gunung Diengnya Kota Bogor.
Pada areal Wana Wisata Kawah Ratu didapati pula air terjun yang oleh penduduk sekitar Gunung Salak tersebut dinamakan Curug Ngumpet, berada dilokasi Wisata Gerbang Trek Kawah Ratu. Dilokasi ini terdapat pula Taman Sribagenda yang letaknya ditengah-tengah jalan setapak menuju Kawah Ratu dan berada di hutan alam. Konon menurut legenda sejarah tempat ini adalah tempat peristirahatan Kanjeng Prabu Siliwangi, serta para petinggi kerajaan Pakuan Pajajaran.
Di lokasi Kawah Ratu, tepatnya diantara Curug ngumpet dan Kawah Mati terdapat danau atau Situ Sanghyang, dimana menurut dongeng masyarakat secara turun temurun, danau tersebut dahulu kalanya digunakan untuk tempat bermandi para bidadari, atau dewi pelangi. Orang setempat bilang Katum Biri, yang mempunyai khasiat untuk kelanggengan kecantikan serta kelembutan bagi para wanita dari berbagai golongan.
Secara Administrasi Pemerintahan, Wana Wisata Kawah Ratu masuk dalam Desa Pasir Reungit. Untuk menuju Kkawah Ratu dapat ditempuh melalui kota Bogor ke Pasir Reungit atau ke Bumi Perkemahan Gn. Bunder. Jika diperbandingkan antara melalui jalur Pasir Reungit dan jalur Gn. Bunder, maka jalur Pasir Reungit menjadi pilihan para pengunjung, karena medan-nya tidak seberat Gn. Bunder, ditempuh sekitar 4 Km jalan kaki yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Para pengunjung dikenakan tarif masuk Rp. 2.500,-/orang (termasuk asuransi jiwa Rp. 250,-). Untuk berkemah dikenakan tarif sebesar Rp. 2.500,-/orang/hari.