Waltz of the Flowers & Love

Yeyen's posts with tag: banten

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag banten

Blog EntryJourney to Pulau Burung + Banten LamaMar 15, '05 9:54 AM
for everyone
JOURNEY TO PULAU BURUNG + BANTEN LAMA

Sabtu, 18 Desember 2004

Weekend kemarin saya melewatkan hari bersama grup Indo Nikon yang melakukan hunting foto di Pulau Burung – Serang dan Banten Lama. Sesuai namanya, Indo Nikon ini adalah perkumpulan fotografer yang secara berkala memang sering melakukan hunting foto di beberapa tempat.

Hari Sabtu pagi saya berkumpul dengan Santy dan Uzept (thanx to Uzept yang sudah ngajakin kami..). Kami bergabung dengan rombongan fotografer yang semuanya laki-laki yang sudah menunggu di parkiran Summitmas Sudirman. Ada satu fotografer perempuan manis bernama Imelda yang menjadi ibunda dari kami semua di sana.

Setelah berkumpul semua, kendaraan langsung melaju menuju jalan tol Tangerang - Merak. Selama di kendaraan kami yang memang baru berkenalan langsung merasa akrab. Di depan Uzept dan Anton, di tengah saya, Santy, Imelda dan Wisnu. Dan di belakang adalah Tumpie dan Iwan (maap kalo duduk agak nekuk, hehee..).

Di pintu exit Serang Timur, kami berbelok dan langsung istirahat sejenak di sebuah rumah makan sebagai meeting point kami dengan rombongan kendaraan yang lain. Setelah makan siang (di rumah makan yang lain lagi), kami langsung menuju Desa Sawah Luhur sebagai titik terakhir kami sebelum akhirnya menuju Pulau Burung.

Perjalanan dari kota Serang ke Desa Sawah Luhur kami lalui tidak sampai 1 jam. Kami sempat melewati kampung nelayan, kapal-kapalnya bagus-bagus. Setelah sampai di Desa Sawah Luhur, kami memarkir kendaraan, dan kami langsung bergerak menuju Pulau Burung yang katanya sih enggak jauh (let’s see..). Dengan membawa gembolan masing-masing kami trekking melewati tambak-tambak yang super duper luas banget. Yang namanya panas matahari enggak kira-kira. Nyengat buangeett.. Tanah yang kami pijak (pematang-pematang tambak) itu tampak sangat kering. Sampai yang namanya tanah itu retak-retak dan saking keringnya, tanah-tanah tersebut muncul ke atas seperti batang-batang pohon yang habis di tebangi. Beruntung saya trekking berbarengan dengan Pak Ridwan yang anteng banget menjelaskan sejarah Pulau Burung.

Ketika sampai di Pulau Burung, saya terdiam.. Hmmm, mana pulaunya yah? Ternyata pulau tersebut sudah menjadi bagian Pulau Jawa sekarang. Dulunya luas pulau ini tidak lebih dari 5 hektar, tetapi karena proses sedimen lumpur2, pulau ini makin lama makin (berasa) nempel dengan pulau Jawa. Jadi jangan kira kita ke Pulau Burung dengan nyebrang dengan kapal atau boat, tetapi cukup jalan kaki saja.

Begitu kita menginjakkan kaki di tanah Pulau Burung itu, hawa dan auranya berubah total. Tanahnya tidak seperti tanah waktu kami trekking di pematang tambak yang kering kerontang itu. Tanahnya sangat becek dan berlumpur. Hutannya wild dan eksotis. Karena ini hutan mangrove, jadinya banyak akar-akar yang menjuntai dan banyak jenis pohon yang tumbuh di air. Pokoknya walaupun kami harus melewati lumpur, untungnya banyak teman-teman yang semangat di perjalanan, jadinya perjalanan trekking masuk hutan ini terasa sangat fun. Kami sempat trekking menyusuri pantai, cool !! Kami bukan hanya jalan lurus lho di pantai itu, tapi kami harus agak sedikit manuver karena banyak pohon yang harus kami lewati, belum lagi jarak pantai dengan daratan sangat pendek sehingga menyebabkan kaki kami harus rela diterjang ombak.

Masuk ke hutan lagi, makin terasa yang namanya nyamuk banyaknya enggak ketulungan. Kita digerubungi nyamuk hutan, sudah seperti wartawan-wartawan yang sibuk ngerubungi selebriti bo’ (saking banyak dan ngeganggu deh..). Tibalah kami di suatu tempat, di bawah pohon besar kami beristirahat. Tas-tas yang kami bawa kami taruh di tempat itu. Di sebelah pohon besar tadi ada menara pengawas, tempat untuk melakukan hunting burung.

Burung-burung di Pulau Burung itu alkisah adalah burung yang bermigrasi dari daratan China. Karena kondisi dingin di sana, menyebabkan mereka bermigrasi dan mencari tempat yang panas. Di Pulau Burung ini mereka bertelur dan setelah 4 bulan, burung-burung tersebut akan kembali lagi tuk bermigrasi ke tempat asalnya. Begitulah seterusnya, siklusnya akan seperti itu. No wonder, pulau ini dinamakan Pulau Burung.

Beberapa fotografer sore itu banyak yang melakukan hunting untuk mengambil obyek-obyek menarik di pulau itu, tetapi saya dan Santy berbelok ke arah pantai yang cukup sepi untuk melakukan photo session dengan menggunakan kamera infra red-nya Uzept. Tetapi karena awan sore itu tidak bagus, dan matahari sudah tidak ‘kreng’ lagi, yah kami harus berpuas dengan hasil foto yang tidak terlalu maksimal.

Sebagian besar teman menginap di Pulau Burung. Tetapi kami yang memang tidak menginap, mulai bergerak kembali ke Desa Sawah Luhur pada pukul 17.30. Kali ini trekking di hutan mangrove tadi melalui jalan yang berbeda. Lebih dekat, tetapi sangat berlumpur. Kami harus menginjak dan tenggelam di lumpur hitam. Lumpurnya lebih dalam dari perjalanan kami di siang hari. Yang namanya kaki dan badan seperti disedot lumpur, sampai kedalaman 15 cm!! Untungnya dimulai dari perjalanan pergi lalu pulang, saya dan Santy (perempuan-perempuan manula) selalu didampingi oleh lelaki-lelaki tangguh yang rela menarik tangan kami kalau lumpur-lumpur itu sudah menarik kami ke dalam. Berat sekali menarik kaki apabila sudah terendam di dalam lumpur. Akhirnya solusinya adalah kami copot sendal trekking kami, lalu kami nyeker tuk bisa survive. Ugh, telapak kaki rasanya blenyek-blenyek.. Tapi fun !!

Sampai di ujung pulau, kaki kami sudah berasa pakai kaos kaki hitam. Wah, kami cuci kaki di rawa yang entah lah isinya ada apa, jangan sampai kaki kami tiba-tiba dicatok buaya atau apalah namanya.. Hehee…

Melanjutkan perjalanan menuju Desa Sawah Luhur tidak kami lalui dengan trekking seperti waktu tadi siang, tetapi dengan naik ojek !! Bener-bener ojek motor lho. Agak ngeri juga, karena selain si abang ojek ngebut, kanan kiri kami kan tambak!! Meleng sedikit, ya nyemplung di tambak udang, kan ndak lucu.. Lebar pematang enggak lebih dari 75 cm kali yah.. Makanya waktu di ojek, ya saya cuma bisa pasrah lah.. (lebih pasrah daripada waktu kesedot lumpur)

Sampai di Desa Sawah Luhur, hujan deras mengguyur.. Air dari langit seperti tumpah ruah. Thanks God kami sudah sampai di desa. Saya, Santy dan Uzept kembali menuju kota Serang, makan malam dan menginap di sebuah hotel melati.

Minggu , 19 Desember 2004

Objek hari ini adalah Banten Lama, kota tua di utara kota Serang. Di sana terdapat banyak sisa-sisa benteng peninggalan kerajaan, mesjid kuno dan kelenteng yang konon merupakan kelenteng tertua di Pulau Jawa. Sepanjang perjalanan kami dari kota Serang menuju Banten Lama ini, terdapat banyak bangunan-bangunan kuno seperti stasiun kereta, rumah-rumah tua yang dijadikan kantor-kantor, dll. Kami sempat melewati kuburan-kuburan tua, tapi bener-bener cuma ngelewat, ngelirik dari jauh saja lho.

Meeting point pertama adalah kelenteng tua. Waktu saya sampai, saya melihat fotografer-fotografer yang sudah wara wiri mengambil objek-objek yang menarik. Saya sempat memperhatikan beberapa orang yang sembahyang di kelenteng, lalu sempat juga melihat petugas-petugas kelenteng yang sedang mengecat tiang-tiang kelenteng, mengkilatkan ornamen di tembok dan dinding, sebagai persiapan mereka untuk menghadapi Imlek bulan Februari mendatang. Saya kagum melihat lilin besar yang sedang dinyalakan, tingginya lebih tinggi dari tinggi saya, besarnya pun juga lebih besar dari saya..

Objek kedua adalah benteng di depan kelenteng (seperti kelenteng tadi, saya lupa nama benteng ini). Bangunan ini walaupun sudah banyak yang runtuh (saya menyebutnya bangkai bangunan), terlihat sangat kokoh dan luas sekali.. Kami coba masuk ke dalam benteng, dan : ‘cool’ … Acara session foto yang memang sudah dimulai di klenteng tadi, berlanjut di benteng ini. Yang namanya panas enggak ampun-ampun, teriikk banget.. Tapi yah demi fun-nya acara, saya dan Santy harus rela manjat-manjat tembok dan harus rela badan kami disinari matahari dan siap untung keling dan ireng (ireng mutung).

Setelah istirahat sebentar sambil menikmati kelapa muda, kami melanjutkan ke objek ketiga yaitu Keraton Kaibon yang tidak jauh dari benteng dan kelenteng. Sama halnya seperti benteng tadi, keraton ini tinggal bangunan-bangunan runtuh saja, tetapi tetap terlihat kekokohannya dan terasa kemahsyurannya pada masanya. Di tempat ini mulai lagi sang fotografer yang kurang lebih berjumlah 25 orang, hunting mengambil objek menarik. Sama juga seperti di objek sebelumnya, karena matahari makin meninggi, yah yang namanya terik makin terasa. Bahu dan punggung yang terbuka makin terlihat memerah dan terbakar. Beruntung bagi kami semua, terutama para fotografer itu yang memang sudah niat untuk hunting foto, cuaca sangat bersahabat. Semakin terik semakin bagus katanya. Awan di atas sangat bagus dan sangat mendukung acara pemotretan.

Akhirnya pada pukul 14.00 hunting foto selesai, dan kami semua harus berpisah. Ada rombongan yang masih melakukan hunting foto, ada juga yang masih stay tuk menikmati duren Banten!! Rombongan kami melanjutkan ke kota Serang untuk makan siang dan setelahnya kami kembali menuju Jakarta.

" Big thanks buat teman-teman Indo Nikon yang semuanya baik-baik dan bersahabat. Semoga foto-fotonya sukses yah.. "

.y.e.y.e.n.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.