-Baduy Trip-
18 November 2004
Rombongan Nature Trekker Indonesia yang berjumlah 24 orang berkumpul di Stasiun Kereta Api Tanah Abang. Rombongan ini dipimpin oleh Igo dan Andrey. Di antara kami ada beberapa yang sudah kenal, tetapi banyak juga yang masih malu-malu. Di stasiun tersebut kebetulan kami bertemu dengan rombongan “jalan melulu” yang juga akan melakukan journey ke Baduy. Kereta yang kami tunggu-tunggu akhirnya berangkat juga pada pukul 09.50.
Perjalanan dengan kereta bisnis yang membawa kami ke stasiun Rangkasbitung itu kami tempuh selama satu jam-an. Sesampai di Rangkasbitung kami menuju terminal yang tidak jauh dari stasiun, dan melanjutkan perjalanan menuju Ciboleger. Perjalanan dengan kendaraan itu juga kami tempuh selama 1 jam. Terlihat muka-muka yang pada kelaperan, dan untungnya sesampai di Ciboleger sudah ada warung nasi yang lumayan, dan di sana kami makan siang sambil bersiap-siap.
Waktu menunjukkan hampir pukul 14.00, dan kami langsung berangkat menuju Kampung Gajeboh (Baduy Luar) dengan berjalan kaki (tracking). Banyak di antara kami terutama yang wanita yang menitipkan tas-tas kami yang segede-gede bagong kepada porter (orang-orang Baduy Dalam). Di perjalanan, ternyata ada yang semangat ’45 pengen buru-buru sampai di Kampung Gajeboh, tetapi ada pula yang alon alon asal kelakon seperti rombongan saya tuk berfoto ria. Mumpung masih di area Baduy Luar, di mana pengambilan foto masih di perbolehkan.
Beberapa ratus meter menuju Kampung Gajeboh ternyata hujan mengguyur, lalu buru-burulah kami memakai raincoat dan berlari-lari menuju kampung. Perjalanan tracking kami tempuh selama satu jam.
Begitu saya sampai di rumah Pak Arsyid (rumah yang kami tumpangi malam itu), terlihat muka-muka yang kelelahan, ada yang tiduran di teras, ada yang lagi ngemil-ngemil dan ada yang mulai belanja-belanja (kaos dan kain-kain Baduy maupun tas-tas yang terbuat dari kulit kayu).
Tidak lama setelah itu, kami berjalan sedikit menuju Jembatan Bambu. Panjangnya kurang lebih 30 meter. Bambu-bambu kuning itu dirangkai dengan sesuatu seperti sabut, dan diikat ke pohon-pohon di atasnya. Ada beberapa di antara kami yang langsung mulai jeprat jepret di jembatan maupun di sungai. Di seberang jembatan ternyata kami melihat lumbung-lumbung padi kepunyaan keluarga-keluarga Kampung Gajeboh. Setelah selesai foto-foto, kami sudah disediakan kelapa muda oleh teman-teman kami orang-orang Baduy Dalam. Duh, enak banget. Saya baru tau kalau ternyata kelapa-kelapa muda tadi dibawa dengan berjalan kaki oleh mereka, dari Baduy Dalam ke Baduy Luar!!!
Karena kebetulan sudah kepalang tanggung basah kehujanan (perjalanan dari lumbung – seberang sungai), setelah kelapa muda kami sikat, saya, Santy dan Galuh enggak tanggung-tanggung langsung main basah-basahan di tengah guyuran hujan. Ada beberapa teman-teman yang ngambil moment ini tuk foto. Wah, kapan lagi nih main hujan?? Setelah agak redaan, kami menuju rumah. Ada beberapa di antara kami yang mandi di pancuran tertutup di tengah kampung.
Malam mulai jelang, suasana kampung makin gelap. Lampu minyak, lilin dan senter yang kami bawa sudah mulai kami nyalakan. Ibu Arsyid sibuk di belakang menyiapkan makan malam buat kami. Duh, enak banget makan nasih panas, walau hanya dengan ikan asin. Ada beberapa di antara kami yang membawa makanan lain seperti kering kentang dan abon sebagai bahan pelengkap makan malam kami.
Selesai makan malam, ada beberapa di antara kami yang mulai siwer-siwer ngantuk, ada yang berdiskusi serius di rumah sebelah, ada yang asik-asik main kartu di teras. Bayangkan, seorang Santy ternyata malam itu dia kumpulkan tenaganya tuk buka lapak, dan malam itu dia jadi cenayang!! Banyak di antara kami yang diramal. Ada yang blak-blakan, ada juga yang malu-malu, ada yang minta diramal sampai 2-3 kali (walau hasilnya toh sama-sama saja), pokoknya banyak request ke cenayang Santy !!
Suasana kampung makin gelap, dan karena makin kelelahan, banyak di antara kami yang langsung tidur. Beberapa (termasuk saya) tidur dengan bermodalkan sleeping bag di teras sambil memandang langit dan ditemani kunang-kunang yang beterbangan (..cool )
19 November 2004
Pukul 5 pagi ternyata sinar matahari sudah mulai terang. Ada beberapa di antara kami yang langsung bangun dan berjalan menuju sungai (tuk jalan-jalan maupun buang hajat), tetapi banyak juga yang masih males-malesan, ngopi-ngopi dan bengong-bengong. Ajang foto-foto setelah mandi merupakan ajang yang ditunggu-tunggu.
Saya dan beberapa teman, selesai menyusuri sungai, keliling kampung sambil melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain dan melihat ibu-ibu yang sedang menenun kain. Duh, damai sekali melihat kehidupan tersebut..
Tepat pukul 10 pagi, rombongan melanjutkan tracking menuju Kampung Cibeo (Baduy Dalam) yang katanya bakal ditempuh selama 4 jam !! Banyak di antara kami yang menitipkan tas kami ke porter (orang Baduy Dalam). Sepanjang perjalanan yang menurut saya koq gak nyampe-nyampe, mana keringet udah segede-gede biji jagung, dan kaki yang rasanya mau copot (sampe gemetaran), tetapi karena enjoy, ya kami sih senang-senang aja yah.. Banyak hal-hal baru yang saya nikmati, seperti pemandangan alam yang bagus, di kanan kiri melihat orang-orang Baduy yang sedang meladang. Kadang yang kami lihat ada hutan hijau, kadang ladang yang baru saja ditanami padi, kadang sungai dan batu-batunya. Perjalanan nan panjang itu tidak kami lalui dengan monoton. Begitu kelelahan, kami sengaja beristirahat, sambil minum-minum dan makan cemilan yang kami bawa. Porter-porter Baduy yang sangat setia menemani kami di perjalanan juga ikut dalam keceriaan. Di perjalanan kami sempat bertemu dengan rombongan “jalan melulu” yang pada malam pertama sudah melewati waktunya di Kampung Cibeo (Baduy Dalam).
Perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Luar ditandai dengan jembatan bambu (dengan sungai di bawahnya). Beberapa di antara kami masih banyak yang puas-puasin berfoto, karena setelah itu kami dilarang keras tuk berfoto. Ini sudah aturan yang tidak boleh kami langgar, dan kami semua berusaha tuk menghargai aturan itu.
Waktu istirahat di jembatan terlihat muka-muka yang kelelahan, tetapi karena semangat, ya enjoy lah.. Perjalanan setelah itu adalah yang paling bombastis buat saya, bayangkan aja tracking dengan ketinggian dan kecuraman (mungkin) 60 derajat. Yang namanya nafas sudah habis, yang namanya jantung udah pindah ke telinga, yang namanya kaki nyaris cophot, yang namanya keringet udah segede-gede biji duren, tetapi berkat semangat teman-teman dan kelucuan-kelucuan yang kami perbuat, ya dienjoy-enjoy lah.. Memang pengalaman tak terlupakan. Pemandangan di kanan kiri makin bagus, mata adem banget walaupun saat itu panas matahari lagi lucu-lucunya..
Memasuki area Kampung Cibeo (Baduy Dalam), suasana makin teduh dan terasa damai. Lumbung-lumbung padi menjadi tanda selamat datang. Beberapa di antara kami ada yang langsung tidur-tiduran, ada juga yang langsung berkeliling kampung, banyak juga yang langsung berinteraksi dengan penduduk Kampung Cibeo.
Yang saya rasakan aura antara Kampung Baduy Luar dan Kampung Baduy Dalam ternyata berbeda sekali. Dimulai dari struktur bangunannya, orang-orangnya, suasananya, pokoknya berbeda banget lah.
Berbeda dengan waktu masih di Baduy Luar, di mana kami tinggal memberikan makanan-makanan yang kami bawa, langsung kami dibuatkan makanan oleh si ibu empunya rumah, kali ini saya dan beberapa teman, sibuk menyiapkan makanan buat teman-teman yang lagi keliling kampung. Pengalaman nih, masak sendiri di atas tungku dengan kayu bakar. Padahal saya sendiri juga bingung, gimana caranya yah… Tapi dengan modal nanya-nanya ke Pak Sarip (si empunya rumah) akhirnya makanan jadi-jadi aja tuh.. Dan enak (kata orang-orang, hehee…). Pokoknya makanan apa pun selama di Baduy jadi terasa enakkkk deh…
Sore harinya beberapa di antara kami ada yang mandi (cari pancuran di tengah hutan maupun si sungai). Ada juga yang tidur kelelahan. Ada juga yang ngobrol dan bengong-bengong di teras rumah. Makin malam, makin gelap, dan pada pukul 8 malam kami diundang untuk menyaksikan pertunjukan musik oleh masyarakat Cibeo di balai kampung. Permainan musik angklung saat itu untuk menyambut masa meladang. Mereka tidak mengenal not-not balok ataupun nada-nada do re mi, tetapi indaahh sekali musik yang disajikan kepada kami.
Pulang menuju rumah Pak Sarip, gelap sekali. Saya yang dengan modal senter aja kebingungan cari tempat tuk kaki menapak, tetapi bagi masyarakat Baduy gelap adalah hal yang biasa. Mereka sudah terbiasa akan itu. Sampai saya sempat berpikir, apa mereka dikaruniai infra red eye kah?? Melewati rumah-rumah, terdengar musik kecapi yang sedang dimainkan. Indah dan damai..
Ternyata makin banyak hal baru yang saya temui, kalau waktu di Baduy Luar kami rata-rata buang air bisa di pancuran tertutup, kali ini waktu di Baduy Dalam kami harus jalan kaki dulu ke sungai dengan bergelap-gelapan. Sungguh pengalaman tak terlupakan.
20 November 2004
Pagi-pagi kami bangun, ada beberapa di antara kami yang langsung mandi menikmati mandi telanjang di sungai, ada juga yang menikmati mandi telanjang mencari pancuran di tengah hutan rimba!! Ini nih yang gak bakal saya temui di kota. Seumur-umur ya baru kali ini lah ngerasain, oh gini toh rasanya mandi telanjang di alam bebas. Kami hanya ngerasain basah air dingin, tanpa boleh menggunakan sabun dan pasta gigi (sudah aturan bo’..).
Selesai mandi, saya dan beberapa teman sempat mampir ke rumah penduduk, berkenalan dan ngobrol. Anak-anak Baduy dan perempuan-perempuan Baduy ternyata cantik-cantik. Putih bersih, dan malu-malu. Mereka semua baik dan ramah kepada kami.
Tepat pukul 8 pagi kami bersiap untuk (again) tracking kembali menuju Baduy Luar. Perjalanan pulang kali ini terasa lebih fun buat saya. Pertama karena paling enggak sudah tau medannya, kedua koq perjalanannya jadi lebih sebentar? Kemarin saya lalui 4 jam dari Baduy Luar ke Baduy Dalam, kali ini di perjalanan pulang hanya kami tempuh selama 3 jam. Perjalanan pulang kali ini walaupun banyak istirahatnya juga di tengah jalan, ternyata banyak jalanan menurun (no wonder jadi lebih cepat dan tidak terlalu capek). Walaupun (again) kaki serasa mau copot, dan keringet udah segede-gede biji nangka, tetapi kelucuan dan kekonyolan waktu perjalan merupakan hal-hal yang paling menggembirakan, selain foto-foto tentunya.
Kami sempat transit tuk beristirahat sebentar di Kampung Gajeboh. Lalu tidak lama kami langsung berangkat tracking kembali menuju Ciboleger.
Sampai di Ciboleger kami bertemu kembali dengan rombongan “jalan melulu”. Selesai makan siang di sana, kami semua mandi dan bersiap-siap tuk kembali ke Rangkasbitung.
Sesampai di Rangkasbitung, ternyata kereta yang pukul 4 sore sudah melaju, terpaksalah kami menunggu kereta berikutnya (pukul 6 sore) sambil makan-makan dan istirahat. Perjalanan di kereta ekonomi malam itu bener-bener membuat beberapa di antara kami terkejut-kejut. Karena kereta selain agak becek, gelap pula.. Tapi berhubung hati senang, ya kami semua enjoy lah.. Beberapa di antara kami ada yang turun di stasiun Kebayoran Lama, ada juga yang turun di stasiun Tanah Abang.
http://yenceu.multiply.com/Yeyen