[1] Wahai energi yang sedang kulihat.. Sejauh aku memandangmu, hanya partikel-partikel kecil yang bersinar, menari-nari di depan mata sayuku. Indah sekali kau bertaburan, menyebar, namun kau tetap berada tersenyum manis kepadaku. Menyapaku, "Hi manis, U''ll get your luck in 2008". Dan "Amiinn..", bisikku sambil tetap beristighfar pelan memegang tasbih merahku.
Bibir ini pelan namun pasti, berucap syukur atas indah dan kasih yang telah diberikanNya kepadaku. Kesehatan, kebahagiaan, rezeki dan segala hal baik yang senantiasa mengelilingiku, di setiap hari-hariku, bahkan di masing-masing detak jantungku. Sungguh kubersyukur atas bahagia dan cintaNya yang selalu kurasakan dalam hatiku.
[2] Wahai energi yang sedang menari-nari menyapaku, katakan kepadanya sungguh aku merindukannya. Kau sungguh berarti di setiap hari-hariku, bagaikan tukang pos yang siap selalu 24 jam mengantarkan dan menyampaikan kasih kami, bolak balik tanpa kenal lelah. Di waktu tidurku, kau bangunkan aku dengan pesan berbentuk zat tak bernyawa dan tak berwarna, menyampaikan sayangnya kepadaku..
Saat ini di ketinggian puluhan ribu kaki dari tempat manusia berpijak, hanya ada kau wahai energi yang selalu mengintip menggodaku. Sudahkah kau sampaikan pesanku barusan? Aku diam bukan berarti aku tak peduli. Aku tak menyapa bukan berarti aku lelah. Aku tetap hidup, dan aku tidak kelu. Fisikku sedang belajar untuk tidak meledak layaknya kembang api yang semalam aku lihat memecah tahun. Namun batinku setiap saat bahkan setiap detik selalu meledak rindu dan sabar menanti hadirmu.
Wahai energi yang baru saja mengetuk ragaku. Atas izinNya dan hanya kuasaNya lah pesanku dan pesannya tersampaikan. Di setiap tahajudku, dan di setiap doaku, mohonku selalu kupanjatkan. Kumerunduk pelan, kupasrahkan, dan kuikhlaskan.
Allah SWT Maha Kuasa dan Dia Maha Tahu apa yang tidak kami ketahui..
flight MZ 775, seat 23E, Satu Januari Dua Ribu Delapan, menjelang sunset : di antara langit Sulawesi - Jawa